Roof Talk #1: Sarasehan Lintas Komunitas Jogja Sukses Digelar
- Administrator
- Selasa, 25 November 2025 09:45
- 26 Lihat
- Liputan
Jogjalink.co.id dan Studio 103 menggelar acara Roof Talk #1: Sarasehan Lintas Komunitas Jogja dengan tema "Monetisasi Karya & Aktivasi Ruang: Jaring Aspirasi Pelaku Kreatif" di Rooftop Pasar Prawirotaman, Jalan Parangtritis No. 103 Yogyakarta pada Minggu, 23 November 2025.
Acara ini dihadiri oleh beberapa pembicara. Selain Ibnu Prabowo sebagai founder Jogjalink.co.id, antara lain ada Agung Dini Wahyudi Soelistyo (Kepala UPT Pusat Bisnis / Studio 103), Sigit Nurcahyo (anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta), Anton Sugiarto (Semuabisa.org), dan Adit "Doodleman" Yogyakarta Art Crime (YORC). Mereka membahas tentang cara memonetisasi karya dan mengaktifkan ruang untuk meningkatkan kualitas karya serta mengembangkan potensi kreatif.
Pada sesi pembuka, Ibnu Prabowo menyampaikan tentang bagaimana keberadaan platform Jogjalink.co.id dapat membantu pelaku kreatif untuk mempromosikan karya mereka. Platform ini juga bisa menjadi corong bagi komunitas untuk mengekspos apa yang menjadi kebutuhan, aspirasi, serta ide-ide kreatif yang bisa disampaikan ke berbagai pihak.
"Kami juga hadir sebagai media promosi. Jadi, ini menjadi momentum bagi berbagai komunitas di Kota Jogja untuk mempromosikan karya mereka seluas mungkin," ujar Ibnu dalam sambutannya sore itu.
Adit "Doodleman" dari Yogyakarta Art Crime (YORC) kemudian memaparkan tentang bagaimana seni dan kreativitas dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan. YORC sendiri merupakan komunitas street art yang memiliki ideologi art crime yang melihat seni jalanan sebagai aksi kriminal dalam skala kecil.
"Lingkup komunitas ini awalnya dari sekolah seni, maka koneksinya adalah senior-senior di sekolah tersebut. Seniman-seniman senior itu kemudian memberi jalan yang bisa kami pelajari dan itu menjadi hal baru buat kami, antara lain adalah dengan memberi kami buku" Adit membuka ceritanya.
"Dulu, kami minim literasi. Tahu berbagai hal soal mural ini dari curhat-curhatan aja di jalan. Tapi, setelah baca buku-buku itu, ternyata mural itu bisa dijadikan sumber monetisasi. Setelah itu, kami mulai terbuka dengan semacam brand, lalu bikin event, mengundang performer. Saya baru sadar, semua yang saya kerjakan itu bisa menghasilkan uang," lanjut Adit.
Sementara itu, Angga Sugiarto menjelaskan tentang bagaimana hadirnya platform Semuabisa.org dapat membantu setiap individu untuk menjadi eksportir barang tanpa melalui birokrasi yang berbelit-belit. Bayangkan, kita bisa tahu cara menembus pasar dunia dan menjual produk ke luar negeri melalui platform ini.
"Di platform Semuabisa.org itu kita mencoba untuk memotong jalur-jalur birokrasi yang rumit untuk ekspor. Pokoknya, intinya kalau kita bisa jualan di Shopee, atau kita bisa posting di Facebook, kita bisa posting di Youtube, bikin konten itu semuanya bisa kita ekspor. Bahkan anak SMP yang jualan ikan cupang aja itu bisa ekspor. Harganya lumayan," Angga Sugiarto menuturkan.
Menanggapi, Sigit Nurcahyo mengatakan bahwa kehadiran Semuabisa.org menjadi keuntungan bagi jajaran UMKM yang selama ini belum paham cara memasarkan produk mereka ke luar negeri. Untuk itu, kehadiran anggota DPRD Kota Yogyakarta ini dalam acara tersebut adalah untuk mendengar masukan dari komunitas yang hadir serta menangkap poin-poin penting yang akan ia bawa ke hadapan Komisi tempat ia bernaung.
"Saya juga salah satunya membidangi UMKM. Dan tentu saja kami harus berpikir keras bagaimana memasarkan produknya. Ternyata, saya ketemu Mas Anton yang ahli mengekspor produk yang sifatnya hanya satuan. Industri kreatif ini kan kadang tidak linear dengan kita yang bersingungan dengan birokrasi, apalagi tadi bisa men-shortcut kerumitan-kerumitan yang ada. Nah, ini kan menarik. UMKM ini kan biasanya bersentuhan dengan demokrasi yang sangat panjang, nah komisi saya berhadapan dengan hal itu. Makanya, hasil dipertemukannya komunitas-komunitas ini kira-kira urgensi yang bisa dimasukkan ke dalam Perda seperti apa? Nanti akan kami bahas," Sigit memaparkan.
Pada sesi berikutnya, Agung Dini Wahyudi Soelistyo berharap keberadaan ruang kreatif di Rooftop Prawirotaman bisa menjadi wadah terciptanya berbagai kreativitas sekaligus memberi keuntungan bagi siapa pun yang terlibat. Apalagi, Anton juga merupakan founder Studio 103 yang sudah makan asam garam.
"Jadi, memang ada banyak hal yang bisa kita gali untuk kemanfaatan ruang di sini. Karena Studio 103 pun dulu berangkatnya dari kolaborasi dan komunitas," kata dia. "Kami dulu di tahun 2021 launching itu di saat Covid kan itu luar biasa tekanannya. Dan salah satu cara kami yaitu berkolaborasi. Kami ngajak temen-temen beraktivitas di sini. Dan dikenal secara organik akhirnya. Nah, ini coba kami pertahankan, biar sustain juga bagaimana saling memberikan keuntungan," beber Agung.
Sigit lantas menakankan bahwa pihaknya sangat mendukung keberadaan ruang kreatif di Rooftop Prawirotaman. Apalagi working space ini dilengkapi juga dengan berbagai fasilitas; mulai dari studio podcast, studio foto, studio musik, dan lain sebagainya. Untuk itu, ia berharap, berbagai kegiatan kreatif bisa terus dilakukan secara berkesinambungan
"Ini menjadi komitmen dari pemerintah Kota Yogyakarta untuk menyediakan working space. Dan menangkap sinyal dari Pak Agung tadi, bahwa acara-acara seperti ini sebisa mungkin dirutinkan. Artinya, ini aktivasi yang harus ada setiap hari. Aset itu kan harus kita sentuh setiap hari. Kalau nggak kita sentuh setiap hari tentu saja menjadi usang. Kebutuhan inovasi dari kami tentu saja tidak sebanyak ide-ide keren dari komunitas," kata Sigit.
Dalam acara ini, para peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi dengan para pembicara. Terlihat antusiasme dari para peserta hingga acara usai. Rooftalk #1 pun diakhiri dengan harapan bahwa para pelaku kreatif dapat terus mengembangkan potensi dan memonetisasi karya mereka.
"Kita bukan hanya bicara masalah profit, dalam tanda kutip ya, tapi benefit bagi setiap individu yang ada di dalam forum ini. Jadi bagaimana bisa menguntungkan dari banyak sisi. Tidak hanya masalah profit saja," kata Agung mengakhiri.